KITAB
SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja
Katolik | |
|
250. Pius VI (1775-1799)
Pius lahir di Casena, Romagna pada 25 Desember 1717, dengan nama Giovanni Angelo Braschi. Terpilih menjadi paus pada 22 Februari 1775. Seperti Klemens XIV, ia juga berjanji tidak akan pernah mengakui Kongregasi Yesuit (Serikat Yesus). Ia melakukan sejumlah nepotisme. Untuk menutupinya, ia mengalihkan perhatiannya pada masalah kebudayaan dan karya seni, dengan cara yang bersahabat dan jujur, hidup religius yang baik. Sekalipun ia bersikap demikian namun ia tetap cenderung memperlihatkan gaya hidup mewah dan sembrono. Pada awal kekuasaanya, ia bertindak penuh semangat dan bahkan bersikap heroic. Tindakan pertamanya yang signifikan sebagai paus adalah mencanangkan tahun 1775 sebagai Tahun Suci.
Setelah tahun-tahun pertama tenang, segala sesuatu berubah. Paus Pius VI harus berhdapan dengan dua peristiwa historis yang luar biasa, yaitu Revolusi Perancis (1790-1797) yang hampir menghancurkan Gereja di sana dan tampilnya Napoleon sebagai kaisar. Kedua peristiwa tersebut menciptakan banyak masalah dan penderitaan bagi Gereja. Revolusi, yang dikutuk oleh paus, jelas-jelas anti klerikal dan menganiaya Gereja serta para imam. Di lain pihak Napoleon menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup Negara Kepausan.
Pada kenyataannya, ia berdalih untuk menghancurkannya. Pertama-tama, ia memaksa paus untuk menandatangani “ Traktat Tolentino”, sebuah traktat hinaan, yang menyatakan kembali kepemilikan Avignon, Venassino, Bologna, Ferrara dan seluruh Romagna dan juga menyetujui untuk membayarnya dengan suatu jumlah yang sangat besar dan menyerahkan karya-karya seni yang ditentukan.
Kedua, ia mengambil keuntungan dari sebuah insiden yang terjadi dengan utusannya untuk menduduki Roma dengan sebuah pasukan, mendeklarasikan bahwa kekuasaan duniawi paus berakhir dan bahkan menyeret Paus Pius VI ke penjara, mendeportasinya ke Perancis. Paus tiba di Perancis, setelah suatu rute perjalanan yang jauh dan berliku-liku penuh penderitaan itu, ia kesakitan dan dibawa kedalam sebuah usungan. Pada usia 82 tahun, perjalanannya betul-betul sebuah kalvari yang tak berkesudahan. Akhirnya ia wafat pada 29 Agustus 1799. Atas himbauan Napoleon, jenasahnya dibawa kembali ke Roma dan dimakamkan di grotto Vatikan.
|